Beranda > Fahit tapi Fakta > Gila Menghamburkan Uang

Gila Menghamburkan Uang

uang

Gila Menghamburkan Uang

Oleh H. Marwan Zein

Di masa depan, kiranya pemerintah perlu memperbesar kapasitas Rumah Sakit Jiwa di negeri ini, sebagai imbangan terbatasnya jumlah kursi di legislatif yang diperebutkan ratusan ribu (malah jutaan) orang. Berbagai pihak mensinyalir, gagal menggapai kursi ‘terhormat’ justru akan membuat si caleg kecewa, frustrasi, putus asa, terjebak utang dan lainnya yang membuat orang berotak miring alias gila. Artinya gagal ke parlemen, RS Gila ‘menunggu’.

Ekses Pemilihan Umum (legislatif) 9 April 2009, lebih kurang tiga pekan lagi, diprediksi menambah jumlah orang berotak miring di negeri ini. Tidak kurang Ketua Kelompok Kerja Calon Legislator Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI Jakarta, Sumarno, mengemukakan hal itu pada sosialisasi tahapan Pemilu 2009 bagi pemilih pemula Senin (16/3) di Jakarta.

Harian Media Indonesia Selasa (18/3) dalam editorialnya juga mensinyalir hal yang sama. Pemicunya, kegagalan ratusan ribu caleg untuk meraih kursi di DPR Pusat, Provinsi, Kabupaten/Kota se Indonesia akan mendatangkan kekecewaan luar biasa, dan rasa malu yang tidak tertanggungkan. Memang, sebagian besar para caleg itu akan gagal ke Senayan atau ke DPRD Provinsi maupun kabupaten/kota, karena tidak imbangnya jumlah orang yang berkehendak dengan kursi yang tersedia.

Bayangkan! Menurut informasi “bedah editorial” Media Indonesia yang ditayangkan Metro TV Selasa pagi (18/3), untuk sebuah kursi di DPR Pusat diperebutkan oleh 20 caleg, di DPRD Provinsi rata-rata diperebutkan 50 caleg, sementara sebuah kursi di DPRD Kabupaten/Kota oleh 95 caleg. Untuk sebuah kursi DPD oleh 8 orang. Berarti sebuah kursi di Senayan akan mengecewakan 19 orang, di provinsi 49 orang, dan di kabupaten/kota 94 orang yang kecewa. Itu baru sebuah kursi.

Ironinya, semua caleg merasa yakin akan berhasil menjadi yang terhormat, dan tidak siap kalah. Maka mereka habis-habisan, mengeluarkan dana yang tidak tanggung-tanggung. Bagi kantong pas-pasan, tidak mustahil memenuhinya dengan menggadai, menjual apa yang ada, meminjam dan lainnya, yang menurut teori akan dikembalikan setelah duduk di kursi empuk, di pusat, provinsi, maupun di kabupaten/kota.

Pada Pemilu lalu para caleg cukup berurusan dengan partai untuk mendapatkan nomor urut jadi (nomor kecil). Tetapi kini berurusan langsung dengan pemilih, karena suara terbanyaklah yang menentukan. Dengan sistem nomor urut, si caleg sudah bisa menduga ia akan berhasil atau tidak. Secara mental ia tak berharap terlalu banyak dan siap gagal.

Tetapi dengan sistem suara terbanyak, ada unsur spekulasi. Maka tak mustahil rayuan dilakukan dengan membagi-bagikan uang (secara diam-diam?) untuk mendapatkan simpati, walau tidak dibolehkan. Belum lagi kampanye lewat iklan, pembuatan poster, spanduk, baliho dalam ukuran besar dan ditempel di bertagai tempat, yang semuanya membutuhkan dana yang tidak sedikit. Jadi dengan sistem ini, si caleg harus siap dengan dana tak terbatas. Sungguh, betapa menyakitkan harapan yang tinggi melangit, ternyata jatuh terhempas ke bumi. Upaya meraih kursi tidak menjadi kenyataan, sementara apa yang ada sudah terjual, beban hidup bertambah, dan utang melilit badan. Maka tak heran, muncul prediksi dan sinyalemen, bahwa kekecewaan membuat si mantan caleg manjadi berotak miring. Sialnya, parpol yang bersangkutan amat mustahil mau ikut sibuk mengurus orang gila. o*

sumber : hariansinggalang

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Terima Kasih Atas komentar dan masukan anda yang membangun

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: